Suka menjelekkan teman!

27 07 2007

“KAU kenal Umar Keriting?” tanya Edi. “Pada berkas lamaran kerjanya, alamatnya dekat rumahmu!”

“Kenal, dia tetanggaku!” jawab Edo. “Pasti berkas lamarannya penuh ijazah kursus ini-itu! Kursus komputer, bahasa Inggris, dan entah apa lagi! Tapi dia itu tak bisa apa-apa! Maklumlah, ayahnya cuma buruh pabrik!”

“Kau ini benar-benar prototipe orang Melayu dengan sifat buruknya yang umum, seperti disesalkan Mahathir Mohamad!” entak Edi. “Ketika diminta referensi tentang teman, yang kau tonjolkan malah hal-hal buruknya! Kapan bangsa kita mau maju kalau begitu?”

“Aku mengatakan faktanya, memang begitu!” jawab Edo. “Ayahnya buruh pabrik, banyak ijazah tapi belum ada bukti dia mampu!”

“Tapi semua itu faktor kelemahannya!” tegas Edi. “Itulah kelemahan orang Melayu di mata sang tokoh, kalau ada yang tanya tentang temannya yang ditonjolkan hal-hal buruknya saja! Padahal, suatu masyarakat yang lebih maju menunjukkan semangat kebersamaan dengan saling menonjolkan kelebihan warga kelompok sosialnya jadi syarat penting!”

“Lantas, aku harus bicara bagaimana ketika dimintai referensi tentang Umar Keriting itu?” kejar Edo.

“Kan bisa kau katakan dia itu memang orang susah, ayahnya buruh pabrik, tapi semangat belajarnya tinggi sekali!” jelas Edi. “Misalnya, meski orang tuanya tidak mampu membiayai dia kuliah, ia berusaha keras mengikuti tuntutan zaman dengan kursus-kursus, dari kursus komputer sampai kursus bahasa asing! Dengan rekomendasi seperti itu tentu aku akan berpikir positif tentang dia karena hanya faktor kesempatan saja yang belum dia dapatkan! Sedang dengan referensi sejelek yang kau berikan, bisa langsung mematahkan peluangnya! Begitulah kebiasaan umum di kalangan warga kita, patah-mematahkan, poklek-memoklek di antara sesama, alhasil jadi susah mencari peluang untuk mengubah nasib!”

“Tapi rasanya aneh, bahkan lucu, kalau ada yang tanya tentang teman langsung dipuja-puji, disebutkan baik-baiknya!” timpal Edo.

“Terasa aneh untuk berbuat baik karena kita terbiasa bersikap buruk!” tegas Edi. “Padahal sikap baik dengan selalu memberi referensi baik terhadap teman itu penting, terutama dalam dunia usaha! Misalnya ada orang tanya tentang variasi mobil, kalau diberi referensi di tempat temannya baik, orang akan datang memasang variasi ke sana! Demikan pula teman lainnya mereferensi ke tempat usaha teman yang tadi, usaha sekelompok teman akan maju bersama!”

“Mungkin kebiasaan warga seperti itu terbawa kebiasaan elite politik kita, yang lebih sering menjelek-jelekkan sesama politikus!” tukas Edo. “Coba, pasti terasa aneh kalau politisi memuji-muji, menyebutkan kelebihan dan keunggulan saingan politiknya!”

“Maka itu bangsa kita terpuruk berlarut-larut karena elite kita tak bisa melihat kelebihan dan keunggulan unsur-unsur dalam sesama komponen bangsa!” tegas Edi. Kalau begitu terus bangsa kita akan makin tenggelam karena bangsa-bangsa lain terus maju dengan saling mempromosikan keunggulan unsur-unsurnya, sedang kita malah saling menjatuhkan!” ***


Tindakan

Information

2 tanggapan

6 08 2007
lumansupra

sulit juga merubah kebiasaan masyarakat yang melekat seperti itu…
tapi seharusnya bisa…

nice post om… :)

7 08 2007
RS Ngalam

wakakak…diamputsss..mang ngono yo wong melayu..
do ae …

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.