Proyek tak jelas!

26 07 2007

“KENAPA dalam terminologi modern aparat negara atau pejabat pemerintah dan pegawai negeri lazim disebut public servant–pelayan masyarakat?” tanya cucu.

“Karena aparat itu tangan negara yang melaksanakan fungsi negara untuk melayani rakyat agar sejahtera, sekaligus sebagai bodyguard (pengawal) yang secara prinsip mengawal setiap rakyat dimana pun ia berada agar tak diganggu, dirugikan atau disakiti orang lain, baik asing maupun tetangga sendiri!” jelas kakek.

“Apakah hal serupa berlaku bagi aparat pemerintah daerah, provinsi serta kabupaten-kota?” kejar cucu.

“Tentu!” tegas kakek. “Makin dekat posisi struktural pemerintahan kepada rakyat, makin konkret pula pelaksanaan fungsi pelayanan negara itu mereka lakukan!”

“Lantas kenapa proyek-proyek Pemerintah Provinsi Lampung yang diajukan dalam RAPBD tidak jelas hingga banyak yang dicoret DPRD?” tanya cucu. “Malah menurut pengamat, banyak program yang dibuat tidak efisien, bukan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat?”

“Mungkin karena aparat atau pejabat kurang memahami fungsi dan perannya sebagai tangan pelaksana tugas negara sebagai pelayan bagi rakyatnya, sehingga menyusun proyek juga tidak sungguh-sunguh untuk melayani kepentingan rakyat, tapi lebih dipada-padakan untuk kepentingan dirinya semata!” jawab kakek. “Pejabat dan aparat negara yang sedemikian itu mirip tangan-tangan wayang kulit yang dimainkan dalang kurang mampu, sehingga tangan wayang yang seharusnya dimainkan menyabet ke depan, malah melayang ke belakang!”

“Kalau begitu ada dalang yang kurang pas memainkan wayang di balik tampilan RAPBD yang sedemikian?” kejar cucu.

“RAPBD itu paduan hasil kerja tim Pemda secara menyeluruh, disiapkan berdasarkan kebutuhan yang telah diinventarisasi sebelumnya!” tegas kakek. “Kalau hasil paduan itu ternyata tak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tak pelak lagi yang salah inventarisasinya, yang diinvetarisasi bukan kebutuhan masyarakat sesungguhnya, tapi kebutuhan aparat sendiri! Untuk itu, yang perlu diluruskan adalah sikap aparat dan para pejabat untuk mengembalikan fungsi dan peran mereka sebagai tangan negara melayani masyarakat, menjadikan dirinya benar-benar sebagai public servant.”

“Tapi dengan tampilan mereka yang begitu terus tampak, julukan sebagai public servant itu sudah menjadi sekadar slogan kosong!” timpal cucu. “Dan slogan yang telanjur kosong mirip ember bodol, diisi cairan apa pun akan selalu amblas tak bersisa!”

“Jangan terlalu pesimistis!” tegas kakek. “Ember bodol itu justru bagus dibuat pot bunga pajangan karena kelebihan airnya bisa ditiriskan, akar tanaman tak busuk!”

“Tapi ember seharusnya tetap berfungsi sebagai ember, tidak disfungsional dari eksistensinya itu!” tegas cucu. “Demikian pula pelayan masyarakat, tidak boleh disfungsional hingga tak lagi berfungsi melayani masyarakat!”


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.