PULANG dari sekolah di luar negeri, di kapal feri Budi lari ke toilet. Temannya heran melihat wajah Budi berseri-seri sekembali dari toilet. “Ada apa?” tanya teman.
“Meskipun sudah dua hari tiba, baru sekarang aku merasa benar-benar berada di negeri sendiri!” jawab Budi.
“Apa yang membuatmu feel at home?” kejar teman.
“Aroma toilet feri!” tegas Budi. “Itu betul-betul khas Indonesia! Di luar negeri tidak pernah menemukan aroma khas seperti itu!”
“Sialan!” entak teman. “Jauh-jauh belajar di luar negeri, pulang bukan dengan semangat perubahan, malah bernostalgia dengan kebiasaan buruk warga bangsanya!”
“Kau pikir mengubah karakter bangsa bisa dilakukan hanya oleh seorang mahasiswa yang pulang dari luar negeri bertingkah sok asing?” tukas Budi. “Mengubah karakter suatu masyarakat seperti mengubah bangunan rumah, harus dibongkar atau dibubrahkan dulu bangunan yang lama, baru dipasang fondasi baru sesuai dengan cetak biru bangunan yang ingin dibangun! Bangsa Jepang setelah bangunan yang lama bergaya angkuh dan sombong itu bubrah dihantam bom atom, barulah mereka bisa membangun karakter bangsanya yang rendah hati seperti sekarang!”
“Kurang bubrah®MDBU¯ apa lagi kesombongan dan keangkuhan kita setelah dilabrak gempa dan tsunami?” timpal teman. “Tapi mana cetak biru bangunan baru karakter yang ingin dibangun, fondasinya seperti apa?”
“Yang dibutuhkan bukan sekadar cetak biru untuk bangunan fisik, tapi cetak biru spiritual atau sistem mentalitasnya!” sambut Budi. “Kalau cuma kerangka fisik, hasilnya bisa seperti toilet di feri ini; fisik toiletnya sudah diganti dengan keramik baru yang kinclong, tapi aroma baunya masih seperti yang dulu!”
“Jadi maksudmu, secara mentalitas bangsa kita ini sebelum musibah sudah seperti aroma toilet di feri itu?” tukas teman. “Jadi dalam membangun kembali pascamusibah, selain bangunan fisik yang serbabaru, juga bagaimana membuat dan menjaga toilet itu tidak beraroma seperti dulu?”
“Begitulah!” timpal Budi. “Cetak biru atau polanya, justru berupa patron atau contoh dalam kepemimpinan, yang mampu menjadikan musibah ini sebagai momentum strategis mengubah karakter membawa bangsa Indonesia memasuki peradaban baru!”
“Wow! Cetak birumu seperti menuntut hadirnya seorang nabi!” entak teman. “Jangan setinggi itu, nanti bisa-bisa bangsa kita malah seperti menunggu godot!”
“Setidaknya seorang pemimpin yang mampu mengelola solidaritas kemanusiaan global yang telah hadir dan kita rasakan adanya sekarang ini melembaga jadi peradaban baru yang tidak mudah curiga kepada orang asing yang datang menolong ketika kita mendapat musibah, tak lagi saling curiga di antara sesama warga bangsa hingga anak-anak sekolah dan mahasiswa rajin tawuran sebagai latihan aktualisasi kultur gontok-gontokan yang makin mapan…!”
“Hopla…!” potong teman. “Sebut saja kita butuh pemimpin yang berkapasitas solidarity maker, jujur, bersih, dan cepat tanggap, tak menonjolkan keraguan hingga membuatnya terkesan lamban!”
Apakah Indonesia Terkenal dengan Bau PESINGnya..?