Asap rokok Bedul!

26 07 2007

LELAH melamar kerja tak kunjung berhasil, Bedul ke tempat orang pintar agar lamaran kerjanya diterima.

“Ini, kuberi rokok, untuk kau isap di depan orang yang menentukan dalam penerimaan karyawan!” tutur orang pintar. “Setiap orang yang menghirup asapnya, pasti kesengsem padamu! Banyak wanita cantik jatuh cinta setelah menghirup asap rokok dariku!”

“Terima kasih, Mbah!” sambut Bedul. Dan esoknya, wajah Bedul tampak paling optimistis dalam antrean pelamar untuk wawancara.

Saat mendapat giliran, sambil melangkah masuk ruangan ia menyulut rokoknya dan menyemburkan asap ke arah pewawancara begitu duduk di depannya. Pewawancara langsung megap-megap, tapi Bedul yakin reaksi asap rokoknya ampuh, dia sembur lagi pewawancara dengan asap berikutnya. Setelah itu, ia tunggu hasilnya!

Meskipun asap masih menyekap wajahnya, pewawancara membuka berkas lamaran Bedul, memastikan foto dalam map sama dengan wajah di depannya, lantas dengan ramah berkata ke Bedul, “Anda tak perlu diwawancara lagi!”

“Maksudnya langsung diterima?” sambut bedul dengan nada gembira, meyakini asap rokoknya betul-betul ampuh.

“Bukan langsung diterima, tapi langsung menerima pengembalian berkas lamaran Anda!” tegas pewawancara. “Anda pasti tahu sejak masuk ruang tunggu tadi, semua ruang di kantor ini area bebas rokok! Tapi nyatanya, Anda malah demonstratif merokok! Dengan demikian, belum diterima bekerja saja Anda sudah melanggar peraturan, tak bisa dijamin Anda bakal disiplin setelah bekerja nanti!”

“Maafkan saya! Saya amat butuh pekerjaan ini!” timpal Bedul berhiba dan tanpa tertahan lagi menuturkan kenapa dia tadi merokok. “Sekali lagi maafkan saya dan beri saya kesempatan mengikuti wawancara!”

Pewawancara terhenyak dan menukas, “Baik, saya maafkan! Kenapa hal itu sampai Anda lakukan juga kumaklumi karena menyadarkan saya, betapa usaha mendapatkan pekerjaan bukan masalah sepele, bisa membuat orang jadi sirik!”

“Saya sendiri nyaris jadi gila!” timpal Bedul. “Karena itu, pasti lebih sakit lagi kalau namanya sudah diumumkan lulus testing penerimaan pegawai, tahu-tahu dibatalkan sepihak panitianya!”

“Apa pun alasannya, perlakuan itu memang betul-betul keterlaluan!” tegas pewawancara. “Lebih-lebih kalau eliminasinya dilakukan tertutup, tidak memajang hasil testing semua peserta sehingga jelas alasan pencoretan nama mereka berdasar urutan prestasinya!”

“Jelas pun ranking prestasinya, bagi orang yang namanya telah diumumkan lulus tiba-tiba dibatalkan tetap tak terperi sakitnya di hati!” sambut Bedul. “Sakit itu, bahkan tak terobati seandai masalah itu diadili dan orang yang dianggap bertanggung jawab dalam menyakiti hati mereka itu dihukum seberat-beratnya sekalipun!”

“Tapi bagaimana menuntut orang bisa merasakan betapa pedih sakitnya hati pada orang yang tak punya hati, dalam arti tak punya perasaan lagi!” timpal pewawancara.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.