Musim Hujan!

26 05 2007

“BU, pinjam payungnya, ya?” Adi memohon. “Mendung sudah gelap, sebentar lagi hujan!”
“Tahu bakal hujan, kok malah pergi?” sambut ibu. “Mau ke mana?”
“Ke halte, cari duit! Mumpung musim hujan” jawab Adi.
“Cari duit bagaimana?” kejar ibu.
“Menyewakan payung!” jawab Adi.

“Orang kan sudah sedia payung sebelum hujan!” timpal ibu.
“Sedikit orang yang siap payung sebelum hujan!” jawab Adi. “Kebanyakan, setelah hujan baru berpikir cari payung!”

“Tapi kalau hujannya deras rumah kita kebanjiran lagi, siapa yang membantu ibu menimba dan mengepel?” tukas ibu. “Kalau tidak langsung ditimba, airnya bisa naik sampai merendam tempat tidur!”

“Banjir lagi, banjir lagi!” timpal Adi. “Kenapa sih tak dibangun gorong-gorong besar agar setiap hujan besar air tak melimpah ke rumah penduduk?”
“Sudahlah, jangan pikirkan gorong-gorong!” sambut ibu. “Merdeka kan baru 59 tahun! Kalau sudah 100 tahun merdeka, baru kau layak mengeluh seperti itu!”
“Harus menunggu 100 tahun merdeka untuk membangun gorong-gorong saja?” entak Adi.

“Jangan-jangan sampai 100 tahun lagi pun kampung kita tetap kebanjiran!” timpal ibu. “Soalnya tempat kita ini rendah, jadi dengan mudah dinilai, banjir memang merupakan hal yang alamiah saja!”

“Kota Amsterdam malah berada di bawah permukaan laut! Kok setiap musim hujan mereka tak kebanjiran?” sambut Adi. “Pasti masalahnya perhatian! Kalau mendapat perhatian yang cukup dari pengelola pembangunan, usaha menghindarkan suatu kampung dari langganan banjir pasti bisa dilakukan!”

“Bukan cuma itu!” tukas ibu. “Waktu ibu masih anak-anak dulu, kalau hujan tidak betul-betul deras air tak pernah masuk rumah kita! Tapi sekarang, hujan tak cukup deras pun air sudah masuk! Artinya, makin lama kita merdeka, kampung kita justru makin rawan banjir!”

“Itu berarti, bukan usaha mengatasi banjir yang diprioritaskan, tapi sebaliknya, malah kegiatan-kegiatan pembangunan yang bisa memperbesar banjir yang makin tak terkontrol!” sambut Adi. “Kawasan penyerap air makin habis, bukit digunduli, lapangan disemen atau jadi bangunan tembok, pantai ditimbun, semua itu dilakukan tanpa sebuah grand desain yang memadai untuk mengatasi banjir!”

“Itu yang membuat kampung kita ini menjadi seperti dasar cekungan kuali yang makin dalam!” timpal ibu. “Sekaligus, semua itu membuat makin lama kita merdeka bukan makin nyaman kita hidup, tapi justru makin terancam tenggelam dalam banjir!”

“Sudahlah bu, mau apa lagi, dasar nasib kita sudah begini!” tukas Adi. “Aku berangkat cari duit ke halte dulu!”

“Kalau hujan deras bagaimana?” tanya ibu.

“Kalau hujannya deras, aku pulang!” jawab Adi. “Kalau aku tak pulang, jelas gawat! Karena tak ada orang yang peduli kampung kita kebanjiran!”


Tindakan

Information

Satu tanggapan

26 07 2007
Rs Ngalam

Wooii,,ndoweh jan ki arek! Asma mu sopo cak? Arek Lampung juga yoo? Urip neng Di koen? Yogyes? Sek ngerjain skripsi yo?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.