Dosa pemimpin Pilihan!

27 07 2007

“HEBOH soal 26 persen golput temuan LSI–Lembaga Survei Indonesia–di Tulangbawang, seorang penanggap dalam dialog politik di kabupaten itu Selasa (24-7) menyatakan ia sudah menanya pada gurunya mengaji mengenai masalah itu!” ujar Umar. “Kata dia, hak untuk golput itu tak boleh diintervensi apalagi diintimidasi! Sebab, berdasar pada dalil-dalil ajaran yang telah didalami sang guru ngaji, ketika pemimpin yang dipilih itu berbuat dosa dalam kepemimpinannya, maka orang-orang yang memilih pemimpin itu ikut memikul dosanya!”

“Lantas kalau suatu bangsa salah memilih pemimpin, apa seluruh bangsa itu harus ikut menanggung dosanya?” kejar Amir.

“Tentu tidak seluruh warga bangsa!” jawab Umar. “Menurut logika ajaran guru ngaji itu, cuma orang-orang yang memilihnya saat pemilu atau pilkada!”

“Tapi kalau akibat kesalahan itu suatu kaum atau suatu bangsa dilaknat, tentu tak ada pengecualian antara yang memilih dan tak memilihnya! Semua menanggung deritanya!” tegas Amir. Baca entri selengkapnya »





Suka menjelekkan teman!

27 07 2007

“KAU kenal Umar Keriting?” tanya Edi. “Pada berkas lamaran kerjanya, alamatnya dekat rumahmu!”

“Kenal, dia tetanggaku!” jawab Edo. “Pasti berkas lamarannya penuh ijazah kursus ini-itu! Kursus komputer, bahasa Inggris, dan entah apa lagi! Tapi dia itu tak bisa apa-apa! Maklumlah, ayahnya cuma buruh pabrik!”

“Kau ini benar-benar prototipe orang Melayu dengan sifat buruknya yang umum, seperti disesalkan Mahathir Mohamad!” entak Edi. “Ketika diminta referensi tentang teman, yang kau tonjolkan malah hal-hal buruknya! Kapan bangsa kita mau maju kalau begitu?”

“Aku mengatakan faktanya, memang begitu!” jawab Edo. “Ayahnya buruh pabrik, banyak ijazah tapi belum ada bukti dia mampu!”

“Tapi semua itu faktor kelemahannya!” tegas Edi. “Itulah kelemahan orang Melayu di mata sang tokoh, kalau ada yang tanya tentang temannya yang ditonjolkan hal-hal buruknya saja! Padahal, suatu masyarakat yang lebih maju menunjukkan semangat kebersamaan dengan saling menonjolkan kelebihan warga kelompok sosialnya jadi syarat penting!” Baca entri selengkapnya »





Proyek tak jelas!

26 07 2007

“KENAPA dalam terminologi modern aparat negara atau pejabat pemerintah dan pegawai negeri lazim disebut public servant–pelayan masyarakat?” tanya cucu.

“Karena aparat itu tangan negara yang melaksanakan fungsi negara untuk melayani rakyat agar sejahtera, sekaligus sebagai bodyguard (pengawal) yang secara prinsip mengawal setiap rakyat dimana pun ia berada agar tak diganggu, dirugikan atau disakiti orang lain, baik asing maupun tetangga sendiri!” jelas kakek.

“Apakah hal serupa berlaku bagi aparat pemerintah daerah, provinsi serta kabupaten-kota?” kejar cucu.

“Tentu!” tegas kakek. “Makin dekat posisi struktural pemerintahan kepada rakyat, makin konkret pula pelaksanaan fungsi pelayanan negara itu mereka lakukan!”

“Lantas kenapa proyek-proyek Pemerintah Provinsi Lampung yang diajukan dalam RAPBD tidak jelas hingga banyak yang dicoret DPRD?” tanya cucu. “Malah menurut pengamat, banyak program yang dibuat tidak efisien, bukan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat?” Baca entri selengkapnya »





Berubah via “Bubrah”!

26 07 2007

PULANG dari sekolah di luar negeri, di kapal feri Budi lari ke toilet. Temannya heran melihat wajah Budi berseri-seri sekembali dari toilet. “Ada apa?” tanya teman.

“Meskipun sudah dua hari tiba, baru sekarang aku merasa benar-benar berada di negeri sendiri!” jawab Budi.

“Apa yang membuatmu feel at home?” kejar teman.

“Aroma toilet feri!” tegas Budi. “Itu betul-betul khas Indonesia! Di luar negeri tidak pernah menemukan aroma khas seperti itu!”

“Sialan!” entak teman. “Jauh-jauh belajar di luar negeri, pulang bukan dengan semangat perubahan, malah bernostalgia dengan kebiasaan buruk warga bangsanya!”

“Kau pikir mengubah karakter bangsa bisa dilakukan hanya oleh seorang mahasiswa yang pulang dari luar negeri bertingkah sok asing?” tukas Budi. “Mengubah karakter suatu masyarakat seperti mengubah bangunan rumah, harus dibongkar atau dibubrahkan dulu bangunan yang lama, baru dipasang fondasi baru sesuai dengan cetak biru bangunan yang ingin dibangun! Bangsa Jepang setelah bangunan yang lama bergaya angkuh dan sombong itu bubrah dihantam bom atom, barulah mereka bisa membangun karakter bangsanya yang rendah hati seperti sekarang!” Baca entri selengkapnya »





Asap rokok Bedul!

26 07 2007

LELAH melamar kerja tak kunjung berhasil, Bedul ke tempat orang pintar agar lamaran kerjanya diterima.

“Ini, kuberi rokok, untuk kau isap di depan orang yang menentukan dalam penerimaan karyawan!” tutur orang pintar. “Setiap orang yang menghirup asapnya, pasti kesengsem padamu! Banyak wanita cantik jatuh cinta setelah menghirup asap rokok dariku!”

“Terima kasih, Mbah!” sambut Bedul. Dan esoknya, wajah Bedul tampak paling optimistis dalam antrean pelamar untuk wawancara.

Saat mendapat giliran, sambil melangkah masuk ruangan ia menyulut rokoknya dan menyemburkan asap ke arah pewawancara begitu duduk di depannya. Pewawancara langsung megap-megap, tapi Bedul yakin reaksi asap rokoknya ampuh, dia sembur lagi pewawancara dengan asap berikutnya. Setelah itu, ia tunggu hasilnya!

Meskipun asap masih menyekap wajahnya, pewawancara membuka berkas lamaran Bedul, memastikan foto dalam map sama dengan wajah di depannya, lantas dengan ramah berkata ke Bedul, “Anda tak perlu diwawancara lagi!” Baca entri selengkapnya »





Musim Hujan!

26 05 2007

“BU, pinjam payungnya, ya?” Adi memohon. “Mendung sudah gelap, sebentar lagi hujan!”
“Tahu bakal hujan, kok malah pergi?” sambut ibu. “Mau ke mana?”
“Ke halte, cari duit! Mumpung musim hujan” jawab Adi.
“Cari duit bagaimana?” kejar ibu.
“Menyewakan payung!” jawab Adi.

“Orang kan sudah sedia payung sebelum hujan!” timpal ibu.
“Sedikit orang yang siap payung sebelum hujan!” jawab Adi. “Kebanyakan, setelah hujan baru berpikir cari payung!”

“Tapi kalau hujannya deras rumah kita kebanjiran lagi, siapa yang membantu ibu menimba dan mengepel?” tukas ibu. “Kalau tidak langsung ditimba, airnya bisa naik sampai merendam tempat tidur!”

“Banjir lagi, banjir lagi!” timpal Adi. “Kenapa sih tak dibangun gorong-gorong besar agar setiap hujan besar air tak melimpah ke rumah penduduk?”
“Sudahlah, jangan pikirkan gorong-gorong!” sambut ibu. “Merdeka kan baru 59 tahun! Kalau sudah 100 tahun merdeka, baru kau layak mengeluh seperti itu!”
“Harus menunggu 100 tahun merdeka untuk membangun gorong-gorong saja?” entak Adi.

“Jangan-jangan sampai 100 tahun lagi pun kampung kita tetap kebanjiran!” timpal ibu. “Soalnya tempat kita ini rendah, jadi dengan mudah dinilai, banjir memang merupakan hal yang alamiah saja!” Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.